From rejection and a gap year to a Tianjin University full scholarship. Dari penolakan dan gap year ke beasiswa penuh Tianjin University.
When Malvin first came to us, he had just graduated from SMK. He had been rejected by multiple agents and universities because his case was "too complicated". Today he is at a Top 10 university in China, with a full scholarship. Saat Malvin pertama datang ke kami, dia baru lulus SMK. Dia sudah ditolak oleh beberapa agen dan universitas karena kasusnya "terlalu rumit". Hari ini dia di universitas Top 10 di China, dengan beasiswa penuh.
When Malvin first came to us, he had just graduated from SMK, Vocational High School in Indonesia. It is a path often overlooked in university admissions, especially abroad.
He had faced multiple rejections from agents and universities, simply because his case was "too complicated" and "too time-consuming". The agent apologised after he got the rejection letter, and moved on. Malvin paid the price. He was left with a gap year and a heart full of uncertainty.
What we saw
When we saw his scorecard, we were stunned. Not only by the grades, but by the potential. We knew this was not the end of his journey. It was just a detour.
We told his mum, "We will fight for his right to study. Not just because he deserves it, but because he can. And we know the flow in China."
He faced rejection again. We did not give up.
Where he is now
Malvin is accepted into Tianjin University, a Top 10 university in China, with a full scholarship for his bachelor's degree.
Last month, I had the honour of meeting his mother and sister in person in Indonesia. His mum is a true force. A successful businesswoman, humble, radiant with wisdom, and full of grace.
Their joy reminded me why we do what we do.
The principle
Not every student case is easy. But every student deserves a chance. And every family deserves someone who will not give up on their child.
I believe what we do is contributing to our next generation's future. We are planting a seed. A good seed.
Saat Malvin pertama datang ke kami, dia baru lulus dari SMK. Jalur itu sering terabaikan di admisi universitas, terutama di luar negeri.
Dia menghadapi penolakan berkali-kali dari agen dan universitas, hanya karena kasusnya "terlalu rumit" dan "terlalu memakan waktu". Agen itu minta maaf setelah dia mendapat surat penolakan, lalu pergi begitu saja. Malvin yang membayar harganya. Dia tertinggal dengan gap year dan hati yang penuh ketidakpastian.
Yang kami lihat
Saat kami melihat scorecard-nya, kami tertegun. Bukan hanya karena nilainya, tetapi karena potensinya. Kami tahu ini bukan akhir perjalanannya. Hanya jalan memutar.
Kami bilang ke ibunya, "Kami akan berjuang untuk hak belajarnya. Bukan hanya karena dia layak, tetapi karena dia mampu. Dan kami tahu alurnya di China."
Dia menghadapi penolakan lagi. Kami tidak menyerah.
Di mana dia sekarang
Malvin diterima di Tianjin University, universitas Top 10 di China, dengan beasiswa penuh untuk gelar bachelor-nya.
Bulan lalu, saya berkesempatan bertemu ibu dan adiknya langsung di Indonesia. Ibunya kekuatan sejati. Pengusaha sukses, rendah hati, memancarkan kebijaksanaan, dan penuh anugerah.
Kebahagiaan mereka mengingatkan saya kenapa kami melakukan apa yang kami lakukan.
Prinsipnya
Tidak setiap kasus siswa itu mudah. Tetapi setiap siswa layak mendapat kesempatan. Dan setiap keluarga layak punya seseorang yang tidak menyerah pada anaknya.
Saya percaya apa yang kami lakukan berkontribusi pada masa depan generasi berikutnya. Kami sedang menanam benih. Benih yang baik.
Why we never take university kickbacks
Most Indonesian agents take 5 to 15 percent of tuition from the universities they place students at. We do not. The recommendation a family gets from us is the one we would give our own child, weighted on fit and outcome, not on commission.
Mengapa kami tidak pernah menerima komisi universitas
Sebagian besar agen Indonesia menerima 5 sampai 15 persen tuition dari universitas yang mereka tempati siswa. Kami tidak. Rekomendasi yang keluarga dapatkan dari kami adalah yang akan kami berikan untuk anak kami sendiri, dibobotkan pada kecocokan dan hasil, bukan pada komisi.
