My POV as an Indonesian: on sungkan, respect, and protecting your energy. Perspektif saya sebagai orang Indonesia: tentang sungkan, rasa hormat, dan menjaga energi sendiri.
Indonesians are raised with sungkan, the reflex to be polite and avoid confrontation. Too much of it teaches us to tolerate things we should not. Orang Indonesia dibesarkan dengan sungkan, refleks untuk sopan dan menghindari konfrontasi. Terlalu banyak sungkan mengajari kita untuk menoleransi hal yang seharusnya tidak.
As an Indonesian, I was raised with strong values of sungkan. We are taught to be polite, to avoid confrontation, and to always consider others' feelings first. But sometimes, too much sungkan leads us to tolerate things we should not.
Recently I organised a BBQ gathering with colleagues. It was meant to be light and fun. One person made the environment uncomfortable for everyone. She spoke harshly. She bossed people around. She gave condescending looks. She dismissed the efforts of the people who were trying to create a warm atmosphere.
At one point, she even screamed at me in public just because I was casually recording our happy moments. My intentions were good. The energy in the room shifted immediately, and not in a good way.
It was not the first time. She once insisted the team eat after a cycling activity at a non-halal restaurant, leaving a Muslim teammate outside to eat alone.
That moment broke my heart. I sat with it afterwards, asking what I could learn from it.
What I learned
Respect and inclusivity should never be optional.
These events reminded me of three things I had quietly known but not lived.
Being respectful does not mean tolerating disrespect.
Being nice does not mean abandoning your boundaries.
Being quiet does not mean you do not have a voice.
I have learned to protect my peace, even when it means walking away from a room. I have learned that removing negativity is not being petty. It is choosing emotional maturity.
To anyone reading this
You are allowed to choose kindness and courage at the same time. Surround yourself with people who respect you back. Do not be afraid to stand up for your own well-being.
Being respectful does not mean tolerating disrespect. Being nice does not mean abandoning your boundaries.
Life is beautiful when you let yourself protect it.
Sebagai orang Indonesia, saya dibesarkan dengan nilai sungkan yang kuat. Kami diajari untuk sopan, menghindari konfrontasi, dan selalu mempertimbangkan perasaan orang lain terlebih dulu. Tetapi kadang-kadang, terlalu banyak sungkan membuat kita menoleransi hal-hal yang seharusnya tidak kita toleransi.
Belum lama ini saya mengorganisir acara BBQ bersama rekan kerja. Acaranya seharusnya ringan dan menyenangkan. Satu orang membuat suasananya tidak nyaman untuk semua orang. Dia berbicara dengan kasar. Dia memerintah orang seenaknya. Dia memberi tatapan merendahkan. Dia menyepelekan usaha orang-orang yang sedang berusaha membangun suasana yang hangat.
Pada satu titik, dia bahkan berteriak kepada saya di depan umum hanya karena saya santai merekam momen-momen bahagia kami. Niat saya baik. Energi di ruangan langsung berubah, dan tidak dalam arah yang baik.
Itu bukan kali pertama. Dia pernah memaksa tim makan setelah aktivitas bersepeda di restoran non-halal, meninggalkan teman tim yang Muslim makan sendirian di luar.
Momen itu menyentuh hati saya. Setelahnya saya duduk merenungkan, apa yang bisa saya pelajari dari ini.
Yang saya pelajari
Rasa hormat dan inklusivitas seharusnya tidak pernah opsional.
Kejadian-kejadian itu mengingatkan saya pada tiga hal yang sebenarnya sudah saya tahu, tetapi belum saya jalani.
Menjadi orang yang menghormati bukan berarti menoleransi ketidakhormatan.
Menjadi orang yang baik bukan berarti meninggalkan batasan diri.
Menjadi orang yang diam bukan berarti tidak punya suara.
Saya sudah belajar menjaga ketenangan saya, bahkan ketika itu berarti meninggalkan suatu ruangan. Saya sudah belajar bahwa menyingkirkan negativitas bukan tindakan kekanak-kanakan. Itu pilihan kedewasaan emosional.
Untuk siapa pun yang membaca ini
Anda boleh memilih kebaikan dan keberanian sekaligus. Kelilingi diri Anda dengan orang yang juga menghormati Anda. Jangan takut untuk berdiri membela kesejahteraan diri sendiri.
Menjadi orang yang menghormati bukan berarti menoleransi ketidakhormatan. Menjadi orang yang baik bukan berarti meninggalkan batasan diri.
Hidup itu indah ketika Anda mengizinkan diri untuk menjaganya.
The arc behind MMC
Started informally in 2011 when I tutored Mandarin part-time while working as an engineer. Hired the first full-time teacher in year four. Built the diagnostic protocol in year six. Stopped chasing growth in year nine. The slow arc was deliberate.
Arc di balik MMC
Dimulai secara informal di 2011 ketika saya mengajar Mandarin paruh waktu sambil bekerja sebagai engineer. Merekrut guru full-time pertama di tahun empat. Membangun protokol diagnostik di tahun enam. Berhenti mengejar pertumbuhan di tahun sembilan. Arc yang lambat itu disengaja.
