Let all that you do be done in love. Apa pun yang kamu lakukan, lakukan dengan kasih.
I heard this verse often during my university years in China. It stayed with me through solo thesis writing in Mandarin, working as the only foreigner in a Chinese tech company, and building Mandarin Mastery Circle from scratch. Saya sering mendengar ayat ini selama tahun-tahun kuliah saya di China. Ia menetap dalam saya, melewati skripsi sendiri dalam Mandarin, bekerja sebagai satu-satunya warga asing di perusahaan teknologi China, dan membangun Mandarin Mastery Circle dari nol.
"Let all that you do be done in love."
I heard this verse often during my university years in China. It stayed with me.
Through solo thesis writing in Mandarin. Through working as the only foreigner in a Chinese tech company. And later, through building Mandarin Mastery Circle from scratch.
How that played out
By day, I was delivering immersive XR projects. By night, I was building a bridge for Indonesian students to access quality Mandarin education. Something I never had growing up.
I did not count the hours. I counted the lives changed. And every late night was worth it.
Because I believe in building with heart, not just hustle. With intention, not just ambition. And most of all, with love.
"Apa pun yang kamu lakukan, lakukan dengan kasih."
Saya sering mendengar ayat ini selama tahun-tahun kuliah saya di China. Ia menetap dalam saya.
Melewati penulisan skripsi sendiri dalam Mandarin. Melewati bekerja sebagai satu-satunya warga asing di perusahaan teknologi China. Dan kemudian, melewati membangun Mandarin Mastery Circle dari nol.
Bagaimana itu terjadi
Di siang hari, saya mengirimkan proyek-proyek XR imersif. Di malam hari, saya membangun jembatan untuk siswa Indonesia mengakses pendidikan Mandarin berkualitas. Sesuatu yang tidak saya miliki saat tumbuh dewasa.
Saya tidak menghitung jamnya. Saya menghitung kehidupan yang berubah. Dan setiap malam yang larut, sepadan.
Karena saya percaya pada membangun dengan hati, bukan hanya hustle. Dengan niat, bukan hanya ambisi. Dan yang paling utama, dengan kasih.
Why I write this on a public site
Because the families I serve need to read for a few months before they trust anyone with their child. The writing is the audition. By the time we have a conversation, the family already knows whether the values fit. That is a healthier start.
Mengapa saya menulis ini di situs publik
Karena keluarga yang saya layani perlu membaca beberapa bulan sebelum mereka mempercayai siapapun dengan anak mereka. Tulisannya adalah audisi. Pada saat kami punya percakapan, keluarga sudah tahu apakah nilainya cocok. Itu awal yang lebih sehat.
